SEJARAH MUNCULNYA ISTILAH ASWAJA
Istilah Ahlusunnah wal Jamaah sudah muncul da digunakan sejak masa sahabat dan tabi’in. diriwayatkan dalam kita Tafsir Ibn Katsir bahwa salah satu Sahabat Nabi, Ibn Abbas Ra (w. 68 H) ketika menafsirkan ayat Al-Quran: “Pada hari di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada muka yang hitam muram” (QS. Ali Imron: 106)
Ibn Abbas mengatakan: “Maksudnya adalah pada saat hari kiamat, ketika muka golongan Ahlussunnah wal Jamaah berseri, dan muka golongan ahli bid’ah hitam muram”. Riwayat yang senada juga disebutkan dalam kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahli Al-Sunnah wa Al-Jama’ah, karya Syaikh Hibatullah bin Al-Hasan Al-Lalika’i (W. 418 H):
Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ketika menafsirkan ayat, pada hari itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (QS. Ali Imron: 106), beliau mengatakan, orang yang mukanya putih berseri adalah golongan Ahlussunnah wal Jamaah dan orang-orang yang berilmu. Sedangkan orang-orang yang mukanya hitam adalah golong an ahli bid'ah dan sesat.
Di dalamn kitab Talbis lblis, Syaikh Ibn Al-Jauzi (w. 597 H) juga meriwayatkan penggunaan istilah Ahlussunnah yang diucapkan oleh Ibn Abbas: “Diriwayatkan dari lbn Abbas RA, beliau menga takan, "Melihat seorang laki-laki dari golongan Ahlussunnah yang mengajak kepada Sunnah dan melarang bid'ah merupakan lbadah. "
Kemudian penggunaan istilah Ahlussunnah diteruskan oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat). Diriwayatkan dalam kitab Sunan Al-Darimiy bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashriy mengatakan: Diriwayatkan dari Al-Hasan, beliau berkata, "Sunnah kalian demi Allah berada di tengah antara yang berlebihan dan keras. Maka sabarlah kalian berpegang tegu pada Sunnah itu, semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Ahlussunnah itu paling sedikit pada zaman dahulu, dan paling sedikit pada Zaman yang akan datang, yaitu orang-orang yang tidak bergabung bersama golongan yang sesat dalam kesesatannya dan tidak bergabung bersama golongan bid'ah dalam kebid'ahannya, serta mereka berpegang teguh pada Sunnah mereka hingga mereka bertemu dengan tuhan mereka.
Begitu juga Imam Malik pernah menggunakan istilah Ahlussunnah sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Intiqa'fi Fadlo'il al-Aimmah T'salatsah al-Fuqoha': Ahlussunnah adalah golongannya orang-orang yang tidak mempunyai julukan (selain julukan ahlusunnah). Mereka bukan golongan Jahmiyyah, bukan Qadaraiyyah, dan bukan Rafidlah.
Sejarah juga mencatat bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah menyebut istilah Ahlussunnah sebagaimana disebutkan dalam kitab Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya' : Sungguh kalian sudah mengetahui bahwa Ahlussunnah mengatatakan "Berpegang pada Sunnah adalah keselamatan."
Baca Juga :
Selanjutnya, istilah Ahlussunnah wal Jamaah semakin popular digunakan dan dikenalkan oleh terutama generasi setelah Tabi'in, terutama oleh para pengikut Imam Abu Al-Hasan al-Asy'ari (w. 324 H). Seperti Al-Baqilaniy (w. 403 H), Al-Juwainiy (w. 478 H), Al-Ghazaliy (w. 505 H), Al-Syahrastaniy (w. 548 H), dan Al-Raziy (w. 604 H). Puncaknya, pada era Al-Zabidiy (w. 1205 H) disimpulkan bahwa istilah Ahlussunnah wal Jamaah dalam pandangan umum ulama menjadi nama bagi mazhab Al- Asy'ariy dan Al-Maturidiy.
Al-Zabidiy dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin menyatakan: Ketika diungkapkan Ahlussunnah wal Jamaah, maka yang dikehendaki adalah Asy’ariah (pengikut Imam Aby Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (pengikut Abu Manshur al-Maturidi).
Dengan demikian, Ahlussunnah wal Jamaah bukanlah istilah baru yang digunakan untuk menyebut aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang hakiki, namun justru merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para Sahabatnya. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan Islam murni yang langsung dari Rasulullah SAW, lalu diteruskan para Sahabatnya dan generasi setelahnya.
Baca Juga : Teks Bacaan Istighotsah (Download File Pdf)
Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang menjadi pendiri ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Yang ada hanya ulama yang telah berhasil merumuskan kembali ajaran Islam setelah lahirnya beberapa paham dan aliran keagamaan yang berusaha mengaburkan kemurnian ajaran Rasulullah SAW dan Sahabatnya.

Leave a Comment